Program Dokumenter Televisi Tugas Penata Kamera

Program Dokumenter Televisi Tugas Penata Kamera
Dispro Dokumenter Televisi.
Film dokumenter pada umumnya adalah pandangan ide cerita dari seorang sutradara, tetapi penonton melihatnya melalui mata sinematografer. Mengambil gambar, kombinasi antara komposisi, dibidik dari bentuk dan memberikan elemen dalam bingkai untuk menjadikan serangkaian visual gambar dengan hitungan detik.

Kerjasama antara kameramen dengan sutradara menjadikan kolaborasi terpenting dari proses pembuatan film. Kameramen atau cameraman bertugas memberikan pandangan mata sutradara, agar terlihat jelas dari ide cerita yang sudah dibuat.

Seorang kameramen juga harus paham dengan alur cerita dan tujuan gambar dari permintaan sutradara, sehingga dalam hubungan tim produksi dapat saling percaya. Pembuatan film dokumenter televisi membutuhkan sebuah kamera dengan kualitas bagus dan tajam, serta menguasai peralatan sinematografi untuk menjadi kebutuhan dan prinsip kerjanya.

Kameramen atau camera person juga bagian dari direct of photography atau DOP yang membuat visual gambar dan kualitas pandangan sinema dari sebuah film. Jadi didalam dokumenter televisi, sebagai kameramen bertanggung jawab untuk mengoperasikan kamera, mengambil gambar dan moment peristiwa pada saat kejadian berlangsung.


Pra Produksi

Dalam pembuatan sebuah film tahap pra produksi merupakan proses yang sangat penting dan harus memiliki porsi yang cukup dominan dalam pembuatan film. Sehingga Bagus atau tidaknya sebuah film di pengaruhi oleh proses kerja penata kamera. Seorang juru kamera harus peka pada saat pengambilan gambar. Jangan mengambil gambar yang itu-itu saja nanti akan terjadi monoton. Penata kamera juga harus mengambil shoot-shoot yang bervariatif.

Persiapan awal ini didasari oleh ide cerita dari sutradara, lalu kameramen akan dijelaskan gambar apa saja yang harus diambil pada saat shooting nanti. Proses briefing ini diperlukan diskusi antar crew untuk mendalami film dokumenter ini dari hal yang kecil sampai terbesar. Disinilah tim produksi harus kompak dan solid dalam menentukan ide cerita yang sudah dikembangkan sutradara.

Selanjutnya riset lokasi syuting atau hunting tempat sesuai arahan dari sutradara, apakah tempat ini cocok untuk diambil gambar atau tidak. Pada saat riset lokasi, kameramen foto tempat tersebut untuk dijadikan bahan diskusi selanjutnya, dan juga melihat apakah ada pencahayaan atau bisa dilakukan blocking. Memahami kualitas pada warna, pencahayaan, karakter, visual dan juga komposisi, harus dibicarakan dengan tim produksi agar tidak salah dalam perekaman gambar nanti.

Penulis sebagai kameramen juga bisa menguasai peralatan kamera yang akan digunakan. Karena film dokumenter televisi ini berjudul "Asli Indonesia", pastinya lebih natural dan soft, jadi alat yang digunakan adalah kamera SONY HXR MC 1500. Tidak lupa dengan mikrofon tambahan yang terdapat di kamera tersebut, harus di tes perekamannya sebelum syuting nanti.

Produksi

Pada tahap ini unsur teknis dan kreatif bergabung dibawah pengawasan sutradara. Dalam proses ini membutuhkan stamina dan kerja sama yang baik agar mendapatkan hasil karya yang maksimal, karena pada dasarnya film yang baik tercipta dari kerjasama yang baik. Oleh karena itu sebelum syuting dimulai, alangkah baiknya briefing dahulu dan berdoa bersama.

Lalu kameramen mengetest peralatannya dan uji coba pengambilan gambarnya, dilihat apakah sudah cukup cahaya atau tidak. Atur pengaturan kameranya dari resolusi dan speed yang digunakan agar pada saat edit video nanti, tidak salah dalam me-render film.

Pada saat proses produksi berlangsung, kameramen sudah mempersiapkan breakdown script dan shooting script agar tidak lupa dengan urutan gambar ceritanya, atau mempersiapkan catatan kaki untuk block, light, rehearsal, dan shot. Disini juga kameramen memperhatikan set lokasi baik interior maupun eksterior dari segi pencahayaan agar tidak mempengaruhi kontiniti.

Sesuai instruksi dari sutradara, mengarahkan narasumber untuk tetap posisi sikap santai dan berbicara dengan tenang, agar memudahkan kameramen mengambil gambar dimana obyek yang terlihat harus disesuaikan dengan set desain yang ada. Setelah pengambilan gambar selesai, sutradara dan kameramen saling berdiskusi dan melihat hasil gambar tersebut apakah layak diambil atau tidak.

Pasca Produksi

Pada prinsipnya tahap ini merupakan tahap penggabungan ide antara sutradara dan editor mereka harus bekerja sama menjadi tim yang berbobot untuk mendapatkan hasil akhir sempurna. Sebagai kameramen dalam tahapan pasca produksi ini adalah membantu sutradara dan editor memilih-milih gambar terbaik yang telah diambil pada waktu syuting.

Jika ada terjadi kesalahan pengambilan gambar, kameramen harus bisa menjelaskannya dan memberikan solusi kepada editor. Di waktu yang lain, kameramen juga membuat laporan hasil kerjanya dari konsep penata kamera, camera report, dan spesifikasi kamera.

Peran Dan Tanggung Jawab

Penata kamera berpengaruh penting dengan apa yang di hasilkan pada saat produksi. Membantu sutradara dalam  penerjemahan dari bahasa tulisan ke bahasa visual melalui pemilihan angle, komposisi dan pergerakan kamera, serta pencahayaan. Dalam menjalankan tugasnya, tetap pada instruksi sutradara agar tidak menyimpang dari ide cerita.

Disini peran kameramen juga bekerjasama dengan seorang editor untuk menjaga frame pada obyek narasumber, memperhatikan gerak kamera, fokus yang jelas, komposisi warna teratur dan terlihat, atau ada benda yang mengganggu dalam perekaman gambar.

Operator kamera berhak untuk meningkatkan pengambilan gambar seperti mengukur pengatur suara microphone apabila masuk kedalam shoot, refleksi equipment atau kru pada kaca, focus yang tidak tajam atau kesalahan fokus lainnya, flare pada lensa, gerak kamera yang kurang halus atau kurang baik dan hal-hal lain yang dapat mengurangi keindahan shoot yang diinginkan.

Pada umumnya kameramen tidak bekerja sendiri (kecuali hal-hal tertentu) dan secara umum tugas dan tanggung jawab seorang penata kamera meliputi:
  1. Berdiskusi dengan produser serta sutradara, membahas tentang rencana produksi.
  2. Mempelajari naskah. 
  3. Memberi masukan bagaimana agar bisa mendapatkan gambar yang baik.
  4. Memilih peralatan kamera serta penunjangnya.
  5. Bekerja sama dengan sutradara.
  6. Melakukan pengambilan gambar atau shooting.

Proses Penciptaan Karya

Konsep Kreatif 

Penulis sebagai juru kamera dalam proses pembuatan karya tugas akhir program dokumenter televisi yang berjudul “Asli Indonesia episode Suara Emas khas Cianjur” akan menceritakan tugas dan peran dari mulai ide sampai akhirnya menjadi sebuah karya film dokumenter ini.

Dalam karya dokumenter televisi ini penulis lebih banyak mengambil shot-shot yang memanjakan mata penonton.untuk setiap gambar yang penulis ambil, juru kamera mengambil gambar dengan menggunakan tripod, agar gambar yang dihasilkan stabil dan shaking (tidak goyang) dan juga gambar yang akan diambil menggunakan angle yang sesuai.

Konsep Produksi 

Dalam produksi tugas akhir ini, penulis bertugas sebagai penata kamera dalam produksi yang berjudul “Asli Indonesia episode Suara Emas khas Cianjur” semua hal berkaitan dengan pengambilan gambar yang merupakan tanggung jawab dari penulis.

Penulis  berusaha dengan sebaik-baiknya agar karya yang dibuat ini sesuai dengan apa yang diharapkan. Penulis memakai referensi dari buku-buku perpustakaan dan hasil meminjam buku dari teman. Konsep produksi yang digunakan adalah dengan cara merekam semua argumen atau pernyataan yang diberikan oleh narasumber.

Konsep Teknis

Pada saat produksi berlangsung, penulis menggunakan kamera Sony HXR MC 1500. Karena kamera tersebut gambarnya berkualitas sehingga gambar yang dihasilkan terlihat bagus serta dalam pengoperasiannya pun tidak terlalu sulit.

Ada pun beberapa perlengkapan tambahan yaitu tripod dan clip on yang membantu dalam proses kerja kamera dalam pengambilan sebuah gambar dan suara. Dalam perekaman gambar penulis menggunakan memory card sebagai metode penyimpanan karena format tersebut mudah di pindahkan ke laptop atau komputer.

Kendala Produksi dan Solusinya

1. Terbenturnya waktu narasumber yang tidak menentu dengan kesibukan kegiatan yang menghambat kegiatan produksi sehingga sangat singkat penulis mengambil gambar dengan angle yang sederhana. Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan cara menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan informasi serta gambar dengan baik. Namun apabila informasi dan gambar yang di dapat dianggap kurang baik, maka dapat dilakukan pertemuan kembali dengan narasumber dengan mengatur kembali jadwalnya.

2. Dengan kendalanya cuaca yang tidak menentu dan terbentur waktu narasumber, penulis mengalami kendala kekurangan stok gambar. Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan cara menunggu cuaca tersebut menjadi lebih baik agar dapat dilakukan penggambilan gambar.

3. Pada saat wawancara dilakukan terdapat suara yang mengganggu sehingga cerita yang di dapat tidak jelas. Solusi yang untuk mengatasi permasalahan ini adalah pada saat proses editing, dilakukan penurunan ambien agar suara bising menjadi berkurang atau bahkan dihilangkan.

4. Pada saat proses wawancara dilakukan clip on yang di pakai oleh narasumber bermasalah sehingga suara narasumber tidak dapat terdengar. Solusi yang dilakukan untuk masalah ini adalah dengan cara mengganti clip on tersebut dengan mic yang menempel pada kamera.

Lembar Kerja Penata Kamera

Konsep Penata Kamera

Konsep penulis sebagai penata kamera dalam karya ini adalah membuat hasil gambar yang maksimal. Penulis selalu ingin bekerja sama kepada semua kru dan sutradara dalam pengambilan gambar, angle, serta blocking. Dalam hal ini penulis akan menggunakan kamera SONY HXR MC 1500 untuk meminimalisir budget serta persetujuan dari produser dan sutradara.

Lalu pada saat pengambilan gambar dan angle produksi ini penulis menggunakan shoot yaitu Long shoot, Medium shoot dan Close up agar hasil yang didapatkan akan terlihat bagus. Kesempurnaan gambar penulis juga didukung oleh angle dan moving yang dipadukan sehingga dalam produksi dokumenter ini mendapatkan kualitas yang maksimal.

Camera Report

Program Dokumenter Televisi Tugas Penata Kamera
Contoh Camera Report

Spesifikasi Kamera

Program Dokumenter Televisi Tugas Penata Kamera
Contoh Spesifikasi Kamera

Penutup

Artikel ini dibuat untuk kalangan mahasiswa komunikasi jurusan broadcasting, khusus yang sedang mengerjakan tugas kampus dispro atau desain produksi dokumenter televisi. Setiap tugas pembentukan kelompok pastinya akan ada bagian-bagian yang harus ditentukan, seperti sebagai penata kamera atau kameramen dokumenter televisi.

Penjelasan tugas dan tanggung jawab sebagai penata kamera dari pra produksi, produksi dan pasca produksi, untuk kamu yang sedang membuat program dokumenter televisi atau film kampus. Postingan ini dari pengalaman penulis jurusan broadcasting dan berkarya desain produksi televisi. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

🔖Baca Juga :
Proses Kerja Kameramen Film
Tugas Audioman atau Penata Suara Film Pendek
Program Dokumenter Televisi Tugas Editor

Bray
Bray Catatansibray.com adalah sebuah situs web berbasis blog sharing dari pengalaman penulis membahas ilmu komunikasi.

No comments for "Program Dokumenter Televisi Tugas Penata Kamera"

Berlangganan via Email