Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Karakteristik Theatre Of Mind Pada Siaran Radio

Karakteristik Theatre Of Mind Pada Siaran Radio

Theatre of mind pada radio merupakan salah satu karakteristik yang dapat menciptakan gambaran dalam imajinasi para pendengarnya dengan kekuatan kata dan suara. Banyak istilah menyebutkan theatre of mind pada radio disebut panggung pikiran, imajinasi pendengar, menciptakan imajinasi dan lain sebagainya.

Seni memainkan imajinasi pendengar secara mental seperti pikiran dan emosi. Imajinasi membutuhkan partisipasi, dan partisipasi menciptakan ingatan. Partisipasi dan imajinasi mereka tidak terbatas pada visual atau gambar, namun siaran radio itu bersifat auditif. Mengandalkan kemampuan suara saja.

Produksi radio yang hanya berupa suara tanpa gambar, justru mampu menciptakan imajinasi yang sering membuat pendengar penasaran.

Misalnya, ketika mendengar suara penyiar, di benak pendengar akan mucul imajinasi tentang sosok sang penyiar sesuai dengan batasan fantasi si pendengar dengan mengolah karakter suara penyiar tersebut.

Radio membuat pendengar membayangkan seolah-olah apa yang di dengarnya itu benar-benar terjadi dalam imajinasi mereka. Dengan warna bunyi tertentu, intonasi dan aksentuasi dalam teknik announcing mampu membawa imajinasi pendengar untuk mengidentifikasi suasana dan situasi berdasarkan suara yang di dengarnya.

Radio mampu membangunkan imajinasi pendengarnya, dengan suara, musik, vokal atau sound effect lainnya. Imajinasi yang muncul di benak pendengar muncul seketika dan menciptakan sebuah ruang visual yang berbeda-beda, meski materi yang di sampaikan acara radio itu sama.

Pendengar punya latar belakang dan pengalaman yang beragam. Imajinasi akan tergantung dari latar belakang dan pengalaman tersebut. Imajinasi ini akan semakin kaya dengan kepandaian sebuah radio dalam mengolah suara, musik, vokal atau sound effect lainnya, menjadi harmoni yang indah.

Menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya Radio Siaran Teori & Praktek, sifat-sifat pendengar radio yang khas dengan karakteristik radio, yaitu:

1. Heterogen
Pendengar di berbagai tempat, berbeda jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan taraf kebudayaan. Selain itu, pendengar berbeda dalam pengalaman dan keinginan, tabeat dan kebiasaan, yang kesemuanya itu menjadi dasar pula bagi gaya bahasa sebagai penyalur pesan kepada pendengar.

Pendengar tidak mungkin meminta kepada penyiar untuk mengulangi sesuatu perkataan atau kalimat yang ia tidak mengerti. Ini di sebabkan karena pendengar tidak dapat melihat si penyiar dan penyiar tidak tidak pula dapat melihat pendengar.

Oleh karena pendengar tidak dapat di lihat, maka penyiar tidak dapat mengetahui reaksi pendengar terhadap isi pesan yang dikemukakannya. 

2. Pribadi
Sesuatu isi pesan akan dapat diterima dan dimengerti kalau sifatnya pribadi (personal) sesuai dengan situasi di mana pendengar itu berada. Penyiar radio seolah-olah bertamu dan memberikan uraian kepada seseorang di suatu rumah. Ia harus berbicara seperti bicaranya seorang teman yang datang bertemu. Sudah tentu dengan rama-tamah, sopan santun, dan tanpa kata yang bermuluk-muluk.

3. Aktif
Pendengar radio sebagai sasaran komunikasi massa jauh daripada pasif. Mereka aktif apabila menjumpai sesuatu yang menarik dari sebuah stasiun radio, mereka aktif berpikir, aktif melakukan interpretasi. Mereka bertanya-tanya pada dirinya, apakah yang di ucapkan oleh seorang penyiar benar atau tidak.

4. Selektif
Pendengar sifatnya selektif. Ia dapat dan akan memilih program radio siaran yang disukainya. Dengan memutar knop jarum gelombang pada pesawat radionya, pendengar dapat mencari apa yang di senanginya, baik program musik maupun uraian atau drama dan lainnya.

Karakteristik Theatre Of Mind Pada Siaran Radio

Pendengar adalah sasaran komunikasi massa melalui siaran radio. Mendengarkan radio biasanya menjadi aktivitas kedua sambil bekerja, mengemudi, memasak dan hal lain sebagainya. Bahkan di saat sendiri, mereka menggunakan radio sebagai teman aktivitas kesendiriannya.

Oleh karena itu penyiar radio mampu membawakan program acaranya dan membangun theatre of mind dalam benak pendengar, karena orang hanya bisa menghayati lewat suara penyiar lalu membuat imajinasi dalam pikirannya setelah mendengarkan uraian isi pesan yang di sampaikan.

Seperti pada program sandiwara radio atau drama radio. Dulu Saya pernah menyajikan sebuah dialog drama radio, namun secara tapping.

Hanya mempersiapkan narasi, sound effect dan musik. Narasi ini di perankan beberapa orang, jadi volume suara harus di seimbangkan bersamaan sesuai kebutuhan.

Lalu merekam suara secara role play, di tambah dengan musik untuk memberikan suasana atau menghindari udara kosong. Kemudian agar dapat membangun theatre of mind pada pendengar, di selingkan suara sound effect yang lebih dramatisasi.

Cross fade menurunkan volume musik pada waktu yang sama membuka tombol sound effect dan menaikannya pelan-pelan, sehingga suara musik menghilang pelan-pelan dan suara sound effect mengeras perlahan-lahan pula.

Contoh dialog:
MUSIK TEMA, UP: 10 FADE & HOLD UNDER 2
JOHN: Hey, apakah kamu mendengar sesuatu?
PAUSE: 05
FX SUARA KAYU DI POTONG: 05. FADE UNDER 9
PAUSE: 05
TONS: Sepertinya ada seseorang sedang memotong kayu?!
JOHN: Ayo kita cari, dimana suara itu berada.

Dalam mengolah drama radio sesuai kebutuhan dan tema cerita yang dibuat. Secara kreatif bagaimana caranya agar mendapatkan dramatisasi dan menciptakan theatre of mind pada pendengar.

Disinilah kekuatan radio dengan karakteristik theatre of mind, mengalir pada ide menggunakan hanya kata-kata dan suara untuk melukiskan gambaran dalam pikiran pendengar, kemudian di isi dengan imajinasi mereka.

Jangan lupa baca juga artikel mengenai singkat mengenai siaran acara talk show radio.

Semoga bermanfaat dan terima kasih.
Referensi:
  1. Effendy, Onong Uchjana. 1991. Radio Siaran Teori & Praktek. Bandung: Mandar Maju, ISBN 979-538-004-4.
  2. Fachruddin, Andi. 2019. Journalism Today. Jakarta: Prenada Media Group, ISBN 978-602-422-919-1.


Post a comment for "Karakteristik Theatre Of Mind Pada Siaran Radio"

Berlangganan via Email